ANDA BERMINAT?
SEORANG pengusaha bercerita tentang awal ketika mulai merintis usahanya, 35 tahun lalu. Usai lulus dari perguruan tinggi swasta di Jakarta, dia bekerja pada pabrik logam. Tiga tahun ia bekerja lalu memutuskan mengundurkan diri untuk berwiraswasta. Ia berpikir bahwa dengan berusaha sendiri, punya usaha sendiri masa depan lebih cerah. Seperti layaknya pengusaha sukses.
Dengan sedikit modal ia berdagang apa saja, pokoknya dapat untung. Ternyata semuanya tak seindah apa yang dipikirkannya. Menjadi pengusaha memang tidak gampang, modalnya pun ludes untuk makan sehari-hari. Tapi tekadnya menjadi pengusaha tidak luntur. Ia ambil barang dagangan di teman-temannya untuk dijual. “Saya sempat jualan ember plastik di jalan-jalan,” katanya. Baginya yang penting adalah usaha, soal dapat rejeki banyak atau sedikit itu urusan Allah. Ia juga rajin ke ibadah memohon kepada Allah agar dimudahkan rejekinya.
Suatu hari ia bertemu dengan kawan sewaktu kuliah. Dari pertemuan itu, lalu timbulah ide, yaitu membuat perhiasan logam yang warnanya mirip emas. Sebab di daerah tertentu banyak wanita yang memakai perhiasan mencolok, tapi ternyata itu emas palsu. Untuk nampang saja. Ia juga tahu sedikit tentang logam karena pernah bekerja di pabrik logam.
Tapi dari mana modalnya? Ia cari ke sana kemari tak ada yang memberi modal. Akhirnya ia nekad untuk meminjam uang ke ibunya yang pedagang di pasar. Ibunya juga tak punya uang lebih, tapi ia punya perhiasan emas yang bisa jual untuk modal. “Akhirnya saya jual emas milik ibu saya ke pasar laku Rp 200.000,” katanya. Lalu ia pulang ke rumah.
Baru beberapa jam di rumah, ia tiba-tiba kedatangan tamu. “Saya ingat-ingat lupa sama tamu itu, tapi katanya ia kawan saya semasa kecil,” tambahnya. Ternyata si tamu itu mau pinjam uang untuk mengobatkan anaknya ke rumah sakit. Ia perlu dana Rp 150 ribu. “Saya agak tersentak kaget, kok banyak betul,” katanya. Terjadilah perang batin dalam dirinya. Sebab kalau dipinjamkan Rp 150.000, uangnya tinggal Rp 50.000. Mana cukup untuk modal.
Setelah hampir satu jam mempertimbangkan, akhirnya ia rela memberikan uangnya Rp 150.000. “Waktu itu saya berpikir, kalau Allah rida dengan usaha pembuatan emas tiruan ini pasti ada jalan. Soal modal tak ada masalah,” tambahnya.
Besoknya dengan uang yang ada, ia beli bahan-bahan baku untuk emas tiruan itu. Lalu dibentuknya perhiasan. Ternyata peminatnya banyak. Dalam setahun ia mampu meraih untung Rp 100 juta, bahkan pada tahun ketiga ia sudah bisa membangun pabrik sendiri. Kini ia punya tiga pabrik dan ratusan outlet di seluruh Indoensia. “Berapa kira-kira aset Bapak sekarang,” tanya saya. Dia agak malu menjawab, “Ya, kira-kira Rp 150 milyaran lah.”
Saya lalu melanjutkan pertanyaan, “Kira-kira kalau ada masyarakat miskin se-kabupaten yang membutuhkan dana Rp 100 milyar, apa Bapak rela memberinya. Kan harta Bapak masih tersisa Rp 50 milyar?” Ia berpikir sejenak dan menjawab, “Ah, ada-ada saja pertanyaanmu,” jawabnya pendek mengakhiri pembicaraan. Dia nampak tidak rela. Tidak seikhlas ketika punya uang Rp 200.000 lalu diminta Rp 150.000 waktu dulu.
DIUJI SAAT KAYA
Dalam suatu diskusi dengan teman-teman, saya melemparkan pertanyaan, diuji dengan banyak harta itu memang lebih sulit, tapi mengapa orang berlomba-lomba minta diuji menjadi kaya? Ada yang menjawab, orang yang ingin diuji kaya karena yang bicara nafsu, bukan hati nurani dan iman. Setiap langkah yang dikendalikan nafsu yang berbuntut keserakahan cenderung mengabaikan akibat-akibatnya di belakang hari.
Masa depan menjadi porak-poranda yang bisa jadi berlanjut menjadi kesengsaraan di akhirat gara-gara memperturutkan hawa nafsu dengan kesenangan sesaat. Agama Islam tidak melarang orang menjadi kaya, tapi kuatkah dia menghadapi ujian-ujian yang dihadapi? Misalnya, Anda masuk supermarket lalu mengambil sebanyak-banyaknya barang yang dipajang di rak-rak itu. Kuatkah Anda membayar barang-barang itu ketika dihitung satu per satu di kasir. Karena barang Anda banyak maka tentu menghitungnya cukup lama dan membutuhkan dana besar untuk bisa keluar lorong kasir itu. Iya kalau duit cukup kalau tidak cukup, tentu memalukan dan menyengsarakan.
Rasulullah Nabi Muhammad SAW sudah memberi contoh kepada umatnya agar jangan mengambil banyak-banyak harta di dunia ini. Secukupnya saja. Dan untuk itu, Rasulullah sampai berdoa minta kepada Allah agar dijadikan orang miskin dan kelak dikumpulkan dengan orang-orang miskin di akhirat. Padahal secara fakta, Rasulullah itu kaya raya kalau beliau mau. Sebab harta dari rampasan perang, Rasulullah selalu dapat bagian, belum termasuk hadiah-hadiah. Tapi semuanya diberikannya kepada fakir miskin tanpa sisa. Tidak ada harta yang menginap di rumah Rasulullah lebih dari tiga hari.
Realitas sekarang memang sulit orang bisa hidup bahagia tanpa harta. Karena hampir semua sendi untuk melangsungkan kehidupan memerlukan biaya. Marilah kita berlomba-lomba mencari harta, bahkan menjadi kaya raya sekalipun. Tapi harta itu hendaknya diperoleh secara halal dan digunakan sepenuhnya sebagai bekal dalam menjalani hidup di kampung akhirat nanti. Sebab kehidupan yang sebernarnya bukan di dunia tapi di akhirat nanti.
JIKA ANDA BERCITA-CITA JADI KAYA
Kalau Anda bercita-cita menjadi kaya raya, menjadi konglomerat maka tirulah sebisa-bisanya Abdurrahman bin ‘Auf, sahabat Rasulullah yang dijamin masuk surga. Nama lengkapnya Abdurrahman bin Auf bin Abdul Manaf bin Abdul Harits bin Zuhrah bin Kilab bin Murrah al Quraisy af-Zuhri, panggilannya Abdurrahman bin ‘Auf. Ia sejak muda memang kaya karena memiliki mindset bisnis yang kuat sehingga sangat piawai dalam berbisnis.
Ketika berhijrah ke Madinah, dia meninggalkan seluruh harta miliknya di Makkah, sehingga sesampainya di Madinah dia sudah tidak memiliki apa-apa lagi. Ketika Sa’ad bin Rabi’ yang oleh Rasulullah SAW dipersaudarakan dengannya, ia menawarkan rumah dan harta dengan halus tapi Abdurahman menolak. Dia hanya minta ditunjukkan mana ke arah pasar. Menurutnya, tangan di atas pastilah lebih mulia dibanding tangan di bawah. Setelah diantar ke pasar, maka dengan kepiawaiannya melihat peluang bisnis jadilah dia orang sukses dalam bisnis dengan waktu yang cukup singkat.
Meski demikian, dengan kesuksesan usaha yang luar biasa itu tidak membuat Abdurrahman lupa diri, bahkan semakin berlimpahnya harta, justru menjadikan dirinya semakin zuhud dan tawadu. Ada riwayat yang menyebutkan bahwa suatu hari Abdurrahman menyumbangkan separuh dari hartanya sebesar empat ribu dirham kepada Sabilillah. Tidak itu saja, ketika Abdurrahman sakit, beliau mewasiatkan separuh hartanya diberikan untuk Jihad fi Sabilillah. Abdurrahman bin ‘Auf juga diberitakan sebagai orang yang paling banyak memerdekakan hamba/budak. Dalam satu riwayat disebutkan bahwa beliau telah memerdekakan hamba tidak kurang dari tiga puluh ribu orang budak.
Bahkan, menjelang meninggalnya, semua harta termasuk baju yang dipakainya telah diwasiatkan untuk disumbangkan kepada fakir miskin. Suatu hari, ketika dia menunaikan salat Subuh di belakang Rasulullah, turunlah malaikat Jibril dan berkata: “Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah berfirman kepadamu: Kirimkanlah salam saya buat Abdurrahman dan terimalah semua wasiatnya, kemudian kembalikanlah semuanya kepadanya; Allah telah menerima sedekahnya dan dia adalah wakil Allah dan wakil Rasul-Nya, maka kembangkanlah hartanya sesuai dengan kemauannya, dan kelolalah hartanya sebagaimana yang telah dilakukan sebelumnya dan dia tidak akan diminta pertanggungjawaban dan beritahulah kabar gembira (dia dijamin masuk surga).”
Sungguh luar biasa, Abudrrahman bin ‘Auf, sang pengusaha kaya raya nan dermawan itu telah diberitahu ketika dia masih hidup bahwa dirinya kelak bakal masuk surga. Itulah yang dimaksud muda kaya raya, tua tambah kaya, mati masuk surga. Anda berminat?
Humor "Gus Dur" (Basuki Subianto)